Pernah gak kamu membayangkan kondisi di suatu pagi, entah dimana…….
mungkin di negeri antah berantah sana.
Dimana kita bisa memandang dan menikmati bunga bunga dan pucuk pucuk daun yang bergoyang goyang tertiup angin,
kabut masih ada walaupun samar,
harum tanah basah tercium lamat lamat dan hembusan lembut angin menerpa wajah …………..
tak ada suara apapun, hanya ada keheningan yang tercipta.

Dan, apa yang terlintas di hati dan pikiranmu?
Mungkin ada yang menjawab :” Syukur pada Tuhan yang telah menganugerahi pagi hening yang cantik”

Atau ada juga yang bilang : “Wow……..indahnya bebungaan itu, kemarin masih berupa kuntum, sekarang sudah mekar dengan indahnya”.

Atau ngomong seperti ini :” Waah, kok kayaknya mau hujan nih, anginnya semilir dingin…….
waduh, bisa bisa gagal nih acaraku yang sudah tersusun rapi”

Nah, bener khaaann……..ternyata input yang sama tak selalu menghasilkan output yang sama juga, selalu berbeda.
Jadi, setiap peristiwa yang sama belum tentu menghasilkan pemikiran yang serupa pada tiap tiap kepala, ya gak sih??
Positif, negatif, baik ,buruk, semua tergantung bagaimana cara memikirkannya.

Berhubungan dengan penyakit, seorang pemikir dan penulis dari Amerika Serikat yang bernama Susan Sontag, mengatakan : “Orang banyak yang cenderung berfikir secara metaforis.
Misalnya ketika seseorang menderita penyakit kanker, maka orang tersebut langsung berfikir tentang ketakutan ketakutannya menghadapi si kanker ini”.

“Selama suatu penyakit dianggap sebagai sesuatu yang jahat, pembunuh yang tak terkalahkan, bukan hanya sekedar penyakit………….sebagian besar penderita penyakit kanker memang pasti akan runtuh mentalnya ketika tahu penyakit apa yang menyerang mereka ”

Artinya , duka kita ketika menderita suatu penyakit bisa jadi karena konseptual kita terhadap suatu penyakit secara metaforis dari pada penyakit itu sendiri.

Jadi………………bagaimana, kalau kita hanya berfikir : Ini hanyalah penyakit !!
As simple as that……….

Salam

NB :
edisi menguatkan hati dan menatanya.
Semoga bisa………….aamiin

Advertisements

About fadecancer

I'm cancer survivor

3 responses »

  1. marsudiyanto says:

    Hidup memang tidaklah mutlak
    Tak ada yang sehat mutlak, sebaliknya juga tak ada yang sakit mutlak.
    Tak ada kesenangan yang mutlak, tak pula ada kesedihan yang mutlak.
    Semua hanya rotasi, hanya perputaran.

  2. usagi says:

    satuju cintaaahhh
    ini hanya masalah asumsi dan kekuatan pikiran
    you can mam
    #peluk


    asiiiikk…..anakgadihku setuju.
    semua hanya sebatas rasa aja kok ya nak πŸ™‚
    (peluuuuukkk juga…………)
    Salam

  3. LJ says:

    seperti juga rasa cinta.. rasa sakit.. itu adalah sebatas rasa mam..
    kata tere liye, sama juga dengan rasa obat, rasa baso, mie goreng, es krim
    ada yang kita suka dan ada yang tidak..

    hehhe, rasa sakit kok disamakan dengan makanan.. mungkin maksudnya agar kita menghadapi dengan biasa saja.. bahwa itu hanya sebatas rasa.. bahwa ada yang lebih penting di balik semua itu..

    selamat pagiiii, mamih sayang..
    peluk dan cium

    bener banget Mak….semuanya hanya sebatas rasa……. πŸ™‚
    semoga mamih tetap bisa punya sikap seperti itu πŸ™‚
    ini khan hanya penyakit!!! πŸ˜›
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s