Melihat gambar gunung berapi pada sampul National Geographic Indonesia,
aku merasakan ada kesamaan dengan penyakit yang menyebalkan ini.
Kanker di tubuhku bagaikan gunung berapi yang dapat meletus setiap saat.
Bedanya, kalau letusan gunung berapi menggelegar dan seketika memporak-porandakan lingkungan di sekitarnya,
sel-sel kanker dengan diam-diam menyebar ke bagian-bagian tubuh dan menggerogotinya tanpa ampun.

Kanker memang pengecut, ia bergerilya, datangnya mengendap-endap.
Saat kita lengah, dengan mudah ia menyerang untuk membobolkan benteng pertahanan dan menyerbu ke segala penjuru.

Dengan bantuan teknologi, keberadaan sel-sel kanker dapat dideteksi melalui pemeriksaan seperti bone scan, CT scan, dan PET scan.
Singkatnya, bone scan untuk mendeteksi apakah ada sel-sel kanker di tulang.
CT scan untuk melihat apakah sel-sel kanker itu ada di organ tubuh tertentu seperti hati, usus dll.
PET scan juga sama, tapi pemeriksaannya lebih lengkap dan biayanya juga berlipat-lipat, jauh lebih mahal dari CT scan.

Aku sudah menjalani bone scan 3x, CT scan 3x, sedangkan PET scan (nggak ada hubungannya dengan PET yang suka gonggong2 dan meong2 lho yaa…..) 1x di RSCM.
Waktu konsultasi, semua hasil scan aku masukkan ke dalam tas biru terbuat dari bahan plastik tebal yang kokoh,
Pak dokter membawa semua hasil scan itu untuk dibahas bersama seorang radiologist dan rekannya yang sama-sama oncologist,
sebelum menerima aku di ruangannya untuk konsultasi .

“Our radiologist was really impressed with the bag,” katanya membuka pembicaraan.
Come on, doc…!    Jangan ngeledek dong………… Masa yang dipuji tas-nya?
Memang tas itu bagus….tapi apa nggak ada hal lain yang bisa dipuji?
Ternyata ada……….Ada kabar bagus.
Kanker itu tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain.
Sayangnya, ada kabar buruk.
Sel-sel kanker masih bercokol di tulang rawanku.
Tadinya aku menyangka kalau hanya ada di dua atau tiga titik.
Ternyata lebih.

Paling tidak, 3 titik di iga kiri, 5 titik di tungkai kiri hingga panggulku, leher belakang, tulang belakang, tulang duduk kiri dan tulang duduk kanan.
Selain itu, tampak ada peningkatan aktivitas.
Hal ini sebetulnya sudah tertuang dalam hasil laporan hasil bone scan terakhir di Dharmais.

Untuk mencegah penyebaran kanker, aku minum Aromasin.
Kata dokter, ada obat lain, yaitu Femara.
Tapi memang tak ada jaminan kalau aku minum Femara, maka keadaannya akan lebih baik.

Aku sudah minum Aromasin sejak penyakit diketahui kambuh pada bulan April 2012,
sedangkan batas waktu untuk minum obat itu adalah 16 bulan (kalau aku tidak salah dengar).
Artinya, setelah masa itu, maka Aromasin tidak lagi efektif untukku.

Dokter mengusulkan agar aku tetap minum obat itu selama 3 bulan sebelum beralih ke Femara.
Dan aku setuju saja.
Aromasin dan Femara adalah obat terapi hormone untuk menekan produksi estrogen, yaitu hormone yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker.
Obat ini hanya manjur untuk mereka yang sudah menopause.

Kalau Aromasin dan Femara tidak manjur, maka baru akan dicoba radioterapi.
Tapi pengobatan ini, sama seperti kemoterapi, dapat menghancurkan sel2 yg masih sehat juga.
Mudah2an terapi hormone berhasil yach…
Sementara itu, aku juga tetap menjalani pengobatan herbal,
dan pengobatan spiritual melalui meditasi yoga…
Aku merasakan manfaatnya ………..paling gak, aku merasa  daya tahan tubuhku cukup baik, walau masih saja sering merasa kelelahan yang luar biasa , dan sering capek juga…………..
Dan yang tak kalah pentingnya adalah aktivitas untuk berolah raga.

Olah raga itu hukumnya wajib, tapi aku kadang suka malas.
Makanya sekarang “dipaksa” agar rajin…
Ayooooooooooooo……………. nggak boleh malas olah raga..!!!!
Siaaaaaaaaaap……. grak…!!!
Majuuuuuu jalan…Satu dua.. satu dua… kiri kanan kiri kanan… (lho, kok jadi baris-berbaris)….hahahahaaa….

Salam

Advertisements

About fadecancer

I'm cancer survivor

3 responses »

  1. membaca tulisan ini, saya seperti dilecut semangat karena selama ini malas berolahraga, duh… semangat…. semangat….


    betul, Akhmad…olah raga tuh penting dan perlu
    tapi ,ya gitu deh, utk mulainya malas, tapi kalau sudah terbiasa , malah enak, kalau gak olah raga rasanya ada yg kurang, gak afdol gitu 🙂
    salam

  2. susindra2 says:

    Ikut prihatin, Bunda.
    Semoga semua upaya bisa terus memperkecil penyebaran kanker. Ada teman yang mengatakan, salah satu rahasia menghambat bahkan memperlemah kanker dengan puasa protein.

    betul banget ,Susi
    bunda juga diet protein, untuk membatasi perkembangan si kanker ini
    terimakasih utk atensi nya, Susi
    salam hangat utk keluarga
    semoga selalu sehat dan sukses ,aamiin 🙂
    salam

  3. applausr says:

    syukur ya kalau tidak menyebar… harus terus semangat ya Bunda… jangan pernah menyerah…


    yup………harus harus harus dan harus ….pantang menyerah Rom 🙂
    terimakasih utk supportnya ya Rom 🙂
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s