Perempuan yang mengetahui kalau dirinya terkena kanker seringkali enggan memberitahu orang lain, terutama keluarganya.
Mereka bisa menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya hingga berbulan-bulan,
dengan alasan tak ingin membuat keluarga panik.
Contohnya Claudine.
Ketika dokter memberitahu bahwa dirinya positif menderita kanker,
ia tidak segera meneruskan kabar itu kepada keluarganya.

Claudine yang ketika itu berusia 34 tahun dan lajang tidak mempunyai asuransi kesehatan,
dan ia tak ingin membuat mereka khawatir.
“Lebih baik tidak usah mengatakannya demi kebaikan kita semua,” katanya.
“Saya hanya ingin melindungi keluarga saya—terutama orang tua.”

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa ketika perempuan membutuhkan dukungan,
banyak dari mereka yang justru menyembunyikan diagnose kanker atau tak mengatakan yang sebenarnya untuk meyakinkan orang lain bahwa mereka tidak sakit atau tidak rapuh walaupun sebetulnya begitulah keadaan mereka.

Meskipun penelitian ini diadakan di Amerika seperti yang dilaporkan The Oregonian, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa keadaan seperti ini juga terjadi di Indonesia.
Hasil dari penelitian itu menunjukkan bahwa perempuan terlalu sibuk memikirkan bagaimana perasaan orang lain,
sampai-sampai mereka tidak mendapatkan dukungan emosi yang diperlukan.

“Mereka tidak menyampaikan (diagnosa dokter) apa adanya supaya orang yang mendengarnya tidak kaget,” kata Grace J. Yoo, sosiolog medis dari Biobehavioral Research Center, San Francisco State University.

Kanker jenis apapun itu dapat memicu berbagai emosi termasuk rasa takut mati,
kehilangan kendali, keinginan menyendiri, rasa putus asa dan depresi.
Tapi penelitian terhadap 174 perempuan di Bay Area, California, baru-baru ini menunjukkan bahwa mereka sulit sekali menyampaikan apa yang dirasakan—terutama kepada keluarga.

Hal ini berlaku dalam kultur, etnis dan kelompok umur yang berbeda,
karena dalam setiap masyarakat perempuan diharapkan untuk mendahulukan orang lain.
Dan mereka tak ingin menjadi beban, dikasihani dan menghindari stigma.
Karena itu, ada yang menyampaikan informasi tentang kanker yang dideritanya dengan pendekatan “kita dapat mengatasinya.”

Ada juga yang mengambil pendekatan “cheerleader” dengan menghimbau semua orang agar menjadikan kabar itu sebagai dorongan bagi mereka untuk menyantap makanan yang lebih sehat, berhenti merokok dan melakukan pemeriksaan mamografi.
Kembali ke soal Claudine, diagnosa dokter cukup berat, ia terkena kanker payudara stadium 2 B dan harus menjalani kemoterapi, operasi dan radiasi.

Beberapa bulan sebelumnya ia mendapati benjolan sebesar kelereng di payudara kanannya.
Ketika pada akhirnya orang tuanya tahu, mereka panik – betapa tidak,
seorang tante Claudine meninggal karena kanker payudara.
Claudine berusaha menenangkan mereka bahkan ketika kemoterapi menyebabkan ia kehilangan rambut indahnya.
Ia ingin menangis sejadi-jadinya.
“Tapi di rumah, saya merasa bahwa saya harus kuat, jadi saya memakai topeng untuk menyembunyikan berbagai emosi”

Ibunya yang tinggal di luar kota datang dan membantunya.
Claudine juga bertemu dengan kelompok pendukung (support group) dan berteman dengan sesama penyintas kanker.
Penelitian Grace J. Yoo menunjukkan bahwa hubungan yang paling menguntungkan bagi penderita kanker datang dari kenalan yang membuat mereka dapat bercerita dengan terbuka tanpa beban, dan yang menanggapi dengan baik serta rasa prihatin.
Ia berpendapat bahwa mereka memerlukan lebih banyak orang yang dapat mengulurkan tangan ketika diperlukan.
“Mereka perlu orang yang telah mengalami semua proses ini.
Mereka perlu penyintas kanker yang dapat menawarkan dukungan tanpa penghakiman dan teror.”

Penderita kanker memerlukan orang untuk berbagi tanpa perlu terbebani oleh peran yang mengharuskan mereka “melindungi”, “mengasuh” atau “mendidik” lawan bicaranya.
Claudine mengatakan bahwa meskipun beberapa temannya telah tiada,
ia merasakan banyak sekali manfaatnya saling memedulikan satu sama lain.
“Memang sangat sedih kalau ada yang meninggal,” katanya, “tapi ada pelajaran yang berguna: We need to take care of ourselves.
Kita juga perlu memperhatikan diri kita sendiri.

Salam

Sumber : www.oregonlive.com



NB :

tulisan ini aku turunkan karena ternyata apa yang dilakukan Claudine persis seperti apa yang aku lakukan …….yaitu menyembunyikan keadaan kankerku pada keluarga ketika pertama kali terdeteksi kanker.
Dan, aku pun bersikap ” sibuk menenangkan” anggota keluargaku yang panik dan sedih mendengar sakitku.
Padahal ,sebenarnya saat itu, aku ingin menangis sejadi jadinya , tapi tak kulakukan, karena “sibuk” menenangkan.

Advertisements

About fadecancer

I'm cancer survivor

2 responses »

  1. itu juga yg sy lakukan pertama kali bun

  2. applausr says:

    betul jangankan yang menderita cancer.. yang sehat saja butuh dukungan orang lain terutama keluarga. Tulisan yang berharga terima kasih sudah sharing bunda…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s