“Kalau sudah duduk, lupa berdiri”. Begitu bunyi iklan kursi merek anu.
( masih ada gak ya iklan itu…….kayaknya dah gak ada deh…..)
Hihihihihi…………….tanya sendiri, jawab sendiri………….hahahahahaa……..

Yang kualami berbeda.
Kalau sudah duduk, susah berdiri.
Apalagi kalau sudah berbaring, susah sekali bangun tanpa merasa sakit.
Kalau sakitnya seperti digigit semut sih nggak masalah.
Lha ini sakitnya sakiiiitt sekali………………………..( pake banget….)

Keadaan ini dipicu oleh rasa lelah yang muncul saat menyudahi sebuah aktivitas.
Tapi itu hanya pemicu.
Sejak awal tahun ini kondisiku memang mulai menurun lantaran terlalu banyak aktivitas.
Aktivitas yang terbanyak sebenarnya bolak balik ke rumah sakit yang sangat jauh dari rumahku.
Aku keburu lelah di jalan dan juga capek karena antrean yang selalu membludag…. hiks

Kebetulan juga rencananya bulan mei depan ini aku mau mantu, anakku yang sulung akan menikah.
Jadi, aku ikutan sibuk untuk fitting baju dengan calon besan dan calon menantuku.
Untung saja, keperluan yang lainnya remeh temeh dan tetek bengek( hihihih….kenapa juga harus bengek yaaa………) hanya calon besan, calon menantu dan anakku saja yang mengerjakan .
(Alhamdulilah yaaa..punya besan dan menantu yang baiiiiik banget dan sangaaat pengertian ……….)
Doain ya temans agar acara pernikahan anakku ini lancar dan diridhoi Allah swt ,aamiin

Trus, gak lama lagi , aku akan punya cucu deh ….pasti cucuku nanti lutju en kyut…ooooh, senangnyaaa……
( husssh.. mengkhayalnya kejauhan, satu satu dulu deh diberesin ) hahahaaahaha………

 

 

Nah, kalau urusan mondar mandir kayak setrikaan tentang rumah sakit nih misalnya , dari rumah, aku sudah harus berangkat jam 06.00 pagi,

sampai di RSCM sekitar jam 08.00, lalu aku harus antre untuk ambil nomer urut untuk mendapatkan amplop yang berisi daftar obat yang harus aku ambil ke YKI ( Yayasan Kanker Indonesia) di Jl. Sam Ratulangi.
Sesampai disana, aku antre lagi setelah menyerahkan surat beramplop yang berisi daftar obat yang harus aku bawa dan serahkan kembali ke RSCM.
Nah, sampai RSCM lagi lagi aku harus antre untuk di panggil oleh suster untuk menjalani terapi suntikan dan infus untuk penguat tulang dan blokade hormon.

Pokoknya, aku biasanya baru sampai lagi di rumahku sekitar jam 19.00 atau jam 20.00
karena harus menembus kemacetan di jalan jalan Jakarta.
Jadiii…………..kebayang khan??? kalau besoknya aku pasti tepar par par……..n teler abizzz……hedeh hedeh……..hiks

Karena sakit yang tak kunjung hilang, mau tak mau aku harus sering ke dokter.
Mulanya ke klinik provider di dekat rumah.
Dokter memberi beberapa macam obat, termasuk obat anti nyeri.
Tapi itu tak menyelesaikan masalah.

“Ibu harus minum suatu jenis obat harganya Rp 200 ribuan per kapsul, diminum seminggu sekali.
Atau diinfus setahun sekali, Rp 6.2 juta,” kata pak dokter spesialis tulang yang mengenakan seragam militer, tapi wajahnya tidak garang dan orangnya cukup simpatik.

“Selain itu harus memakai korset yang bisa dipesan khusus, harganya Rp 2.4 juta.”

“Korset apa itu dok,” tanyaku.

” Korset itu untuk menahan supaya tulang tetap pada posisinya apabila badan bergerak, sehingga tidak terasa sakit”.

“Boleh pikir pikir dulu ya, dok,” kataku.

Mahal sekali ya, harga obat dan korsetnya.
Padahal biaya konsultasi murah, hanya Rp 75 ribu dan biaya rontgen Rp 120.000 untuk 4 lembar foto tulang belakang.

Tapi ada kejutan yg cukup menyenangkan…………
Obat yang katanya berharga Rp 200 ribuan itu ternyata “hanya” Rp 93.500 di apotek dekat rumah.
Memang harga obat di apotek ini termasuk murah. (eh, mana yang benar ejaannya? apotek atau apotik?)

Seminggu sudah berlalu, tetapi kondisiku belum membaik.
Terlintaslah gagasan untuk mencari second opinion alias pendapat kedua dari dokter lain.

Kemana ya enaknya? Setelah dipikir pikir, aku memutuskan untuk ke RS yang terletak tak jauh dari rumah karena khawatir bahwa perjalanan jauh akan membuatku merasa kurang nyaman.
RS ini dulu menyandang nama internasional, tetapi predikat itu sudah dicopot atas perintah menteri kesehatan yang baru.
(Menurut menkes, hanya ada satu rumah sakit di Jabodetabek yang berhak menyandang gelar internasional, yaitu Siloam).
Jadi sekarang berganti jadi premier.

Di RS tersebut terdapat beberapa dokter spesialis tulang.
Dari profilnya yang tercantum di website, kelihatannya mereka cukup mengesankan.
Akhirnya aku memutuskan untuk memilih satu dokter yang kelihatannya paling oke.
(Tapi aku sebetulnya kurang yakin).

Sehari sebelum ke dokter, aku ngobrol dengan temanku.
“Kalau ke RS itu, jangan ke dokter ‘anu’,” kata temanku.
“Aku dulu pernah sama dokter itu. Orangnya nggak serius.”

Teman itu bercerita bahwa dulu ia punya masalah dengan tulang belakang.
Dokter itu mengatakan bahwa ia perlu suntik. Sekali suntik Rp 15 juta.

“Aku tanya, ada jaminan ga aku bisa sembuh. Dokternya bilang, kalau nggak sembuh, ya operasi.
Dia ngomongnya enteng sekali, kayaknya aku mau dijadikan percobaan,” kata temanku uring uringan.

Memang betul, tak ada jaminan bahwa suatu tindakan dapat sukses 100%.
Tapi cara penyampaian dokter itu yang kelihatannya kurang tepat.

Temanku kemudian ke dokter lain.

“Kata dokter, aku tak perlu suntik atau operasi,” katanya.

Dokter menyuruhnya banyak berolah raga, jalan kaki dan berenang, dan memakai korset yang dibeli langsung di Spine Center tempat dokter tersebut berpraktik.
“Dokter itu bilang: Saya jamin Anda bisa 70% sembuh,” katanya.
Dalam waktu dua bulan, ia pun sembuh dan tak perlu memakai korset

********************

Aku ingin menunjukkan foto hasil rontgen.
Tapi dilarang pak dokter.
Terlebih dahulu ia memintaku mengemukakan keluhan, yang dengan sabar disimaknya.
Lalu menanyakan obat yang tengah diminum, setelah itu barulah ia memeriksa hasil foto.

“Ya, ini sudah mulai keropos,” katanya.

Ia menyuruh meneruskan minum obat yang tengah dikonsumsi dan menambahkan dua jenis obat lain, yaitu untuk mengatasi osteoporosis dan untuk menguatkan tulang.
Ia juga berpesan agar selalu menegakkan badan supaya tidak bongkok dan memakai tongkat untuk membantu agar badan tegak.

“Banyak jalan ya,” katanya.

“Berapa menit, dok?” aku bertanya.

“Kok berapa menit. Satu jam,” jawabnya.

“Jalan jalan di dalam rumah saja, boleh, dok?”

“Boleh.”

“Mengenai korsetnya bagaimana?”

“Nanti lihat dulu perkembangannya selama sebulan ini.”

“Kalau memang perlu, harganya berapa dok? Mahal ya?”

“Tidak mahal mahal amat, ratusan.”

Biaya konsultasi Rp 250 ribu plus biaya administrasi sebesar Rp 75 ribu.

(Menurut pasien yang duduk disebelahku, ia sebelumnya berkonsultasi dengan dr SS di RS lain dengan ongkos Rp 200 ribu).

Meskipun ongkosnya sedikit mahal, nggak nyesel deh.

Soal jalan jalan itu, aku memang tak banyak bergerak karena takut kalau tambah sakit.

Tadi pagi ini aku mulai berjalan pelan-pelan keliling di dalam rumah.
Pokoknya mondar mandir kayak setrikaan……
Sebetulnya lebih enak ya, kalau jalan jalannya di luar rumah sambil mandi sinar matahari pagi, apalagi rumahku keciil mungiil.
Tapi untuk sementara tak apalah, yang penting banyak jalan.

Badan rasanya lebih enteng……………hehehee….

Advertisements

About fadecancer

I'm cancer survivor

13 responses »

  1. chocoVanilla says:

    Untuuuungg aku baca ini, Bundoo. Karena aku malas sekali jalan kaki apalagi berolahraga. Insya Allah setelah ini aku akan mulai berjalan kaki. Kita sama-sama ya, Bun….. Aku temani dari Bogor 😀

    Semoga acara pernikahannya lancar ya, Bun. BundoLy jangan terlalu capek dan ngoyo yaaa….

  2. Alris says:

    Gaya bercerita Bunda Lily tidak menyiratkan orang sakit yang putus asa. Salut ambo. Jalan kaki manfaatnya baik buat kesehatan. Saya saat ini jalan kaki dari lantai dasar ke lantai tiga minimal kali sehari. Lumayan mebakar lemak, 🙂
    Selamat buat si sulung, semoga segala sesuatunya berjalan baik.

  3. applausr says:

    iya kadang kadang jalan jalan kaki bisa membantu… ternyata jadi lebih enteng ya bunda… semoga dengan latihan jalan, rasa sakitnya bisa jauh berkurang…

  4. bunda lily…semoga Allah selalu memberikan yang terbaik buat bunda sekeluarga. Semoga Allah mengangkat penyakit yang sedang ada sebab hanya DIA yang bisa membolak balik keadaan…
    semoga bunda bisa beraktifitas normal lagi….aamiin…..
    *semangat bunda bikin orang malu untuk berkelus kesah apalagi yang sehat lahir batin*

  5. prih says:

    Senangnya tuk persiapan mantu kak sulung, memompakan semangat pada bundanya. Bergerak dgn bertarget waktu ya Uni, yook melangkah dengan mantap.
    Sharing opini keduanya sangat bermanfaat Uni. Salam

  6. ka kak says:

    all the way and there is a solution and insyaalllah guided by Him …. “keep spirit and always fighting. Life is colorful sis …” mmmmuuuach..

    aamiin…….

    yups…life is amazing and beautiful sis 🙂

    luv u as always 🙂

    salam

  7. alaika says:

    setahu Al, kata yang benarnya apotek Bund, hehe. #Baru belajar di kelas editing tadi, pamer. Haha.

    Wah, harga korset di dokter yang pertama itu kok mahal banget ya Bund? weleh-weleh…, beda jauh dengan dokter kedua.

    Anyway, semoga dengan berolah raga [jalan kaki ini] bisa membantu meringankan rasa sakit dan memulihkannya ya Bund. Aamiin.

    Wah, sebentar lagi Bunda mantu… semoga lancar acaranya ya Bund. 🙂

    iya Al. tadi Mbak EM jg bilang, yang bener itu “apotek”
    Makasih ya Al 🙂

    iya, mahal banget si korsetnya 😦
    mudah2an kalau bulan depan hasilnya bagus, gak jadi deh pake korset itu, doain ya AL 🙂

    Aamiin ya Rabb……
    terimakasih banyak utk doanya Al.
    dann…………….bulan mei itu Al harus datang lho yaaa…..
    ( maksa dot com) 😛

    peluk sayang

    salam

  8. LJ says:

    xixi.. satu jam! bukan brp menit Mamih sayang…

    besok pagi mamih kudu temenin eMak jalan kaki ke puskesmas
    lumayan satu jam.. dingin dan lihat gunung marapi dan singgalang di sepanjang jalan 😛

    Aaaah eMak…. 😳
    ketauan deh tuh si mamih ini malasnya 😛

    mauuuu dunks , lan jalan sama eMak …

    ( peluk rindu )

    Salam

  9. Sofyan says:

    Malam Bunda 🙂

    Membaca satu persatu kalimat Bunda, Bunda sama sekali tidak menunjukkan orang yang sedang sakit, benar komentar Bunda Yati, bahkan cerita Bunda disini bukan seperti pasien, melainkan dokter, salut….. 🙂

    Kalau dengan cara hanya berjalan jalan secara istiqomah itu bisa membantu menyembuhkan atau minimal bisa mengurangi rasa sakit lakukanlah Bun dengan Istiqomah, karena saya yakin apapun hal yang dilakukan dengan Istiqomah pastia akan berbuah manis

    Semoga acara pernikahan anak Bunda berjalan lancer dan Bunda diberi kesehatan oleh_Nya # Amin

    selamat malam juga ,Sofyan

    Alhamdulillah, semoga apa yg dilakukan dgn istiqomah, seperti Sofyan bilang satu saat akan membawa hasil ,aamiin

    terimakasih banyak utk doanya ,Sofyan 🙂
    semoga Sofyan dan keluarga selalu sehat ,aamiin

    Salam

  10. bunda,semoga di berikan kesabaran dan kesembuhan ya 🙂

    aamiin ya Rabb….
    terimakasih banyak utk doanya Isha 🙂

    semoga Isha juga selalu sehat ya, aamiin

    Salam

  11. Yati Rachmat says:

    Bunda Lily, salut banget aku sama Bunda Lily ini — gaya postingannya itu lho, koq keknya tulisan seorang yang sehat wal’afiat, tanpa ada penyakit yang bermukim dalam dirinya dan tanpa keluhan karena sakitnya. Tulisannya begitu menarik. Kalau gak tahu cerita sebelumnya kalo bunda ini sedang sakit, rasanya seperti membaca sebuah cerita aja. Bunda Lily, ketabahan adalah juga merupakan obat. Do’a dari kami semua para blogger, baik yang mengenal bunda Lily ataupun yang belum mengenal bunda Lily. Semoga penyakit Bunda Lily berangsur diangkat oleh Allah SWT. Aamiin. Suatu saat aku pun ingin cerita tentang diriku. Tapi belum sekarang. Abis kapan? hehehehehe….

    Terimakasih banyak Bunda Yati.
    padahal sih ada juga beberapa postingan disini yg galaw krn si kanker ini 🙂

    Aaamiin aamiin ya Rabb…..
    doa, atensi dan support dr sahabat2 bloger , khususnya dr Bunda Yati bikin aku tambah semangat untuk tetap terus berjuang
    terimakasih banyak ya Bunda Yati 🙂

    iya, kapan dong, ceritain dong Bunda ….
    ( sambil tarik2 tangannya Bunda Yati ) 🙂

    salam

  12. betharia says:

    semoga cepet sembuh bunda…

    dan buat anaknya semoga lancar sampe hari H dan menjadi kluarga samara Amin YRA

    aamiin ya Rabb…terimakasih banyak utk doa, atensi dan supportnya ya Betha 🙂

    salam

  13. Imelda says:

    yang benar apotek bunda…
    ah aku juga masih ingat tuh iklan, “Kalau sudah duduk lupa berdiri…”

    Semoga dengan jalan sejam sehari bisa membantu ya bun..
    dan tetap semangat ya
    Doa saya juga supaya perkawinan bulan Mei bisa lancar.

    jadi yang bener itu “apotek” ya Mbak EM 🙂
    iya, iklan jaman dulu …hihihi..

    insyaAllah aku tetep semangat , apalagi Mbak EM gak bosen2 terus menyemangati aku
    ( peluuuukkk…..) 🙂
    aamiin ya Rabb.terimakasih banyak utk doanya ya Mbak EM

    Kalau kebetulan Mbak EM ada di Indonesia, aku sangat berharap Mbak EM bisa ikut hadir di bulan mei nanti 🙂

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s